Banjir dan Kemacatan di Ibu Kota Bisa Diatasi
!
Jakarta adalah kota terpadat di Indonesia. Kota yang di dalamnya
terdapat tempat hiburan seperti Monas, Kota Tua,
Ancol, Taman Mini, Lubang Buaya bekas para jendral yang disiksa PKI juga jadi
tempat wisata jenis sejarah. Jakarta juga terkenal karena menjadi ibu kota
Negara Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan dan pusat ekonomi. Jakarta
merupakan ibu kota sejak tanggal 22 Juni 1964 yang di tetapkan oleh Presiden
pertama Indonesia Ir. Soekarna.
Terdapat banyak wacana dan pendapat yang menguatkan bahwa pada waktu
yang berdekatan ini, ibu kota Negara Indonesia akan di pindahkan ke Pulau
Kalimantan. Rencana pemindahan ibukota ini semakin menguat setelah Presiden RI
Joko Widodo menyinggung masalah pemindahan ibukota ini. "Pada kesempatan yang bersejarah ini. Dengan memohon ridho Allah
SWT, dengan meminta izin dan dukungan dari Bapak Ibu Anggota Dewan yang
terhormat, para sesepuh dan tokoh bangsa terutama dari seluruh rakyat
Indonesia, dengan ini saya mohon izin untuk memindahkan ibu kota negara kita ke
Pulau Kalimantan," ujar Jokowi dalam pidato kenegaraan 2019 pada Jumat (16/8/2019), di Kompleks
Parlemen, Senayan, Jakarta.
Dengan adanya pernyataan tersebut banyak pendapat dari
pihak lain agar ibu kota tetap di Jakarta karena Kalimantan adalah paru paru
dunia yang harus tetap di lindungi. Karena Kalimantan adalah pusat hutan dunia
yang masih lestari dan banyak habitat satwa yang hampir punah di dalamnya.
Ketika ibu kota di Kalimantan benar ada perubahan seperti pemerataan ekonomi
tapi di sisi lain menghancurkan hutan penghasil oksigen dan merusak habitat
satwa yang hampir punah.
Di seluruh Indonesia hanya satu hutan yang masih lebat
dan menjadi habitat para satwa liar. Dan hanya satu hutan yang menjadi habitat
satwa yang hanya ada di Indonesia. Ketika ibu kota di Indonesia adalah
Kalimantan mau di bawa kemana satwa-satwa tersebut? Mau bernafas pakai apa
manusia pada tahun tahun ke depan?
Permasalahan pemindahan ibu kota ini harus di pelajari
secara mendalam dengan memikirkan akibat yang akan terjadi kedepannya. Jangan
sampai pemerintah bertindak hanya untuk keinginan Jakarta terbebas dari macet
dan banjir, Kalimantan merata perekonimiannya. Akan tetapi lihatlah sisi yang
membuat dampak negatif yang ada dikedua daerah tersebut dengan mencari solusi
agar tidak berdampak fatal.
Ketika ibu kota tetap di Jakarta maka pemerintah harus
memperhatikan lagi masalah yang sering muncul untuk di cari solusinya dalam
waktu dekat dan menjadi program kerja utama pemerintah.
Pada saat ini, Jakarta yang hanya bisa di tempati sekitar 600 ribu jiwa
untuk bisa bebas beraktivitas. Faktanya ada 10 juta jiwa yang menempati ibukota
yang berdampak Kota Jakarta sudah tidak ramah lagi. Banyaknya polusi,
kebanjiran, kemacatan yang sering terjadi hingga kemiskinan yang berakibat
menguras keuangan pemerintah. Pada 2017, Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro bahkan menyebut
kemacetan di Jakarta mengakibatkan kerugian Rp67,5 triliun. Nilai yang tidak
sedikit untuk negara yang masih berkembang ini. Nilai itu sebaiknya di gunakan
untuk kepentingan lain yang bisa menunjang kemajuan bangsa Indonesia.
Permasalahan utama Kota Jakarta tidaklah macet dan banjir melainkan
sampah. Masalah tersebut saling berhubungan sebab akibat yaitu banjir diakibatkan
oleh sampah. Berbicara masalah banjir sebenarnya air yang meluap di Jakarta itu
bukan karena air menggenang sendiri karena hujan melainkan air terusan dari
puncak Bogor yang mengalir ke sungai sungai besar di Jakarta dalam volume yang
besar. Karena padatnya penduduk di Jakarta berakibat peresapan tanah di buat
untuk pemukiman penduduk. Oleh karena itu, air yang awalnya bisa meresap ke
dalam tanah tetapi terhalang oleh bangunan penduduk dan hasilnya air menggenang
dengan volume yang besar.
Dari masalah banjir di ibu kota yang menjadi titik
perbincangan adalah bagaimana cara mengatasi masalah besar tersebut. Gubernur
DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki trik sendiri mengatasi banjir di ibu kota
dengan memperbanyak kolam retensi dan waduk di bagian hulu: Bogor, Jawa
Barat."Sehingga air dari hulu yang bergerak ke Jakarta lebih
terkontrol," kata Anies di Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 2 Mei 2019.
Permasalahan lainnya adalah kemacetan di setiap harinya.
Masalah ini diakibatkan oleh banyaknya penduduk yang mengendarai transportasi
pribadi di setiap harinya. Karena biaya hidup yang tinggi dan ongkos angkutan
umum mahal maka masyarakat mulai dengan membeli kendaraan pribadi. Menurut Direktur Eksekutif Perhimpunan Studi
Pengembangan Wilayah Syahrial Loetan ada sebanyak 18 juta kendaraan bermotor
yang beredar di jalanan Jakarta. Nilai tersebut bukanlah sedikit untuk daerah
Jakarta Sementara panjang jalan hanya bertambah kurang dari 0,1%. Komposisi
lalu lintas secara umum adalah sepeda motor 73,92%, mobil penumpang 19,58%,
mobil beban 3,83%, mobil bus 1,88%, dan kendaraan khusus 0,79 %,"
sebutnya. Dengan demikian, solusi yang tepat adalah menyadarkan warga Jakarta
untuk tidak menggunakan atau menambah kendaraan pribadi dan menurunkan biaya
transportasi umum untuk menarik perhatian warga Jakarta .
Solusi banjir dan kemacatan tidak bisa
di jalankan oleh pemerintah saja melainkan perlu kesadaran dari setiap individu
untuk melakukan hal yang di perintahkan oleh pemerintah agar masalah jakarta
cepat terselesaikan dan menjadi ibu kota yang anti dengan bencana dan
permasalahan.Dengan banyaknya solusi dan banyak tindakan perubahan maka untuk 5
tahun kedepan Jakarta akan menjadi kota yang berhasil keluar dari permasalahan
yang menyelimuti sejak lama.
https://nasional.kompas.com/read/2019/08/16/18493981/pidato-kenegaraan-jokowi-dan-wacana-pemindahan-ibu-kota?page=all.
Penulis : Rosiana Haryanti
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Penulis : Rosiana Haryanti
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
@kementrianPPN/BAPPENAS #Bappenas dan
#IbuKotaBaru